Senin, 06 Juni 2011

Kontroversi Terjemahan Al-Qur’an

Orang yang masih diperangi masih ada kesempatan untuk bertaubat, tapi orang yang sudah dibunuh telah kehilangan kesempatan untuk bertaubat.

Baru-baru ini ramai diperdebatkan ihwal kesalahan beberapa terjemahan Al-Qur’an oleh Departemen Agama. Salah satu contoh yang disuguhkan adalah terjemahan Surah At-Tawbah Ayat 5, "Bunuhlah mereka di mana saja kamu temui mereka." Padahal, menurut pihak yang mengkritik, terjemahannya semestinya "Perangilah", bukan “Bunuhlah”.

Dengan segala kerendahan hati, saya, yang merasa masih banyak kelemahan, mencoba memberikan kontribusi, dengan sedikit ilmu bahasa yang saya miliki berusaha menganalisis terjemahan itu.

Memaknai sebuah kata yang ada dalam kalimat tidak bisa terlepas dari konteksnya. Baik konteks kebahasaan maupun konteks di luar kebahasaan.

Kita ambil konteks kebahasaannya saja. Maka kita perlu melihat ayat itu secara utuh. Dalam Al-Quran dan Terjemahnya Departeman Agama yang diterbitkan Gema Risalah Press Bandung, Edisi 1992, pada Surah At-Tawbah Ayat 5, tertulis, “Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikian shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesunggunya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” 

Konteks kata-kata yang sangat membantu untuk menentukan apakah makna yang tepat bunuhlah atau perangilah adalah kata-kata yang muncul setelah kata bunuhlah berikut ini: tangkaplah, kepunglah, intailah, bertaubat, mendirikian shalat, menunaikan zakat, berilah kebebasan, berjalan.

Orang yang diperangi masih bisa ditangkap, dikepung, diintai, bertaubat, mendirikian shalat, menunaikan zakat, mendapatkan kebebasan, dan berjalan. Lha, kalau orang yang sudah dibunuh kok ditangkap, dikepung, diintai, bertaubat, mendirikian shalat, menunaikan zakat, mendapatkan kebebasan, dan berjalan? Orang yang masih diperangi masih ada kesempatan untuk bertaubat, tapi orang yang sudah dibunuh telah kehilangan kesempatan untuk bertaubat. Bukankah perbedaan maknanya sangat jauh?

Al-Qur’an, sebagai firman Allah SWT, tidak mungkin salah. “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami bernar-benar memeliharanya.” (QS Al-Hijr: 9). Yang berkemungkinan salah adalah terjemahannya, atau pemahaman atas terjemahan itu.

Kita berterima kasih kepada Departemen Agama, yang telah bekerja keras menerjemahkan Al-Qur’an. Namun, mereka yang terlibat dalam penerjemahan itu tentu bukanlah orang-orang yang tidak luput dari kesalahan. “Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang-orang yang bertaubat.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah). Oleh karena itu, saya mengimbau Departemen Agama, atau sekarang Kementerian Agama, terimalah masukan-masukan itu jika memang benar.

Sebaliknya, kepada seluruh umat Islam, pahamilah, belajar agama melalui buku memang bagus. Namun belajar agama harus dengan guru, ustadz, ulama, dan lain-lain. Dengan demikian, insya Allah, Anda tidak akan salah memahami yang Anda baca.

Terakhir, yang juga harus dipahami, memaknai ayat di atas harus melihat pula konteks ayat-ayat sebelumnya. Sebab, perintah perang di situ ada setelah sebelumnya umat Islam diperangi.

Jadi, ayat itu digunakan dalam keadaan perang. Dalam keadaan damai, seperti sekarang di negeri kita, Indonesia, tidaklah relevan menggunakan ayat itu sebagai dasar untuk memerangi orang lain. Dalam keadaan damai, Islam memerintahkan umatnya untuk hidup berdampingan secara damai dengan mereka.


Wallahu a’lam bishshawwab.


ES

*Opini, pernyataan, atau apa pun yang ada dalam rubrik Uneg-uneg adalah opini atau pernyataan pribadi. Bukan representasi redaksi alKisah. Dan terbuka untuk komentar.

Menunggu Peran Ulama Perempuan

Penegakan nilai-nilai Islam di muka bumi ini sejak awal telah membawa semangat egaliter.


Memasuki bulan April, gaung emansipasi kembali terasa. Bulan yang telah menjadi saksi lahirnya seorang tokoh perubahan wanita pribumi bernama R.A. Kartini. Masyarakat Indonesia memperingati hari kelahirannya, 21 April, sebagai Hari Kartini.

Berbagai karnaval, diskusi, seminar, talkshow hingga sarasehan begitu semarak. Baik sekadar untuk memperingati dan mengenang perjuangan R.A. Kartini, maupun demi mencetak Kartini-Kartini masa kini.

Kartini adalah potret pejuang gerakan emansipasi sejati, demi peradaban bangsa yang ramah terhadap wanita. Namun demikian, Kartini sejatinya bukan pejuang emansipasi semata, tetapi pada saat yang sama ia juga pejuang gerakan reformasi pemikiran dan pendidikan. Dengan kegelisahannya yang memilukan ia bergulat dan mencoba keluar dari pikiran dan tradisi feodal serta kungkungan budaya patriarki di sekitarnya.

Potret ini tentu sebuah loncatan baru bagi Kartini, agar masyarakat mampu menjadi kelas-kelas terdidik.
Upaya reformasi peradaban itu dilakukan Kartini dengan cara yang cerdas. Ia, yang tidak bisa bersekolah formal, dengan cerdik melakukannya secara otodidak.

Sayangnya, menurut ulama perempuan terkemuka sekaligus guru besar Universitas Islam Negeri Jakarta (dahulu IAIN), Prof. Dr. Huzaimah Tahido Yanggo, M.A., Indonesia hanya mengenal satu sosok wanita berjasa, R.A. Kartini. Ia meyakini, banyak perempuan-perempuan perkasa lainnya yang tidak terekspos media. Ada Cut Nyak Dhien, misalnya, walaupun pola gerakannya berbeda, dan lain-lain.

Bahkan jauh sebelum mereka, sekitar 14 abad silam, di Tanah Arab, Nabi Muhammad SAW telah membicarakan emansipasi dan kesataraan bagi wanita.

Pengakuan Islam terhadap wanita begitu besar. Dengan tegas Prof. Huzaimah, yang juga mantan ketua Pusat Studi Wanita Universitas Islam Negeri Jakarta, menegaskan, Islam tidak membedakan perempuan dengan laki-laki berdasarkan jenis kelamin, melainkan berdasarkan kualitas ketaqwaan, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Quran surah Al-Hujurat ayat 13, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Rasulullah Tokoh Pembebasan Wanita
Pengakuan Islam terhadap wanita juga tertulis begitu indah dalam surah Al-Ahzab ayat 35.

Ayat ini lahir dilatarbelakangi pertanyaan kritis Ummul Mu’minin, Ummu Salamah, kepada Baginda Nabi Muhammad SAW seputar posisi kaumnya dalam Islam.

Alkisah, suatu ketika Ummu Salamah, yang tak lain istri Rasulullah, menghampiri Baginda Nabi dan bertanya, “Kami telah menyatakan beriman kepada Islam, dan melakukan hal-hal sebagaimana engkau lakukan. Jadi mengapa hanya kalian, laki-laki, yang disebut dalam Al-Qur’an, sementara perempuan tidak?”

Tidak lama kemudian, ketika berkhutbah di atas mimbar, Rasulullah mengatakan bahwa Islam memandang laki-laki dan perempuan sebagai makhluk mulia, tidak ada superioritas antara satu dan yang lainnya. Allah SWT juga menyebutkan perempuan berdampingan dengan laki-laki dalam setiap wahyu-Nya. Keduanya akan mendapatkan pahala yang sama di sisi Allah SWT sesuai dengan yang diusahakannya. “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”

Maka sejak itu sebutan untuk kaum muslimin secara umum dalam Al-Qur’an berubah menjadi muslimin wal muslimah. Dan perlakuan yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad SAW terhadap kaum wanita pada masa itu sungguh berbeda dengan perlakuan masyarakat Arab pra-Islam.

Semula perempuan dianggap mahluk Tuhan yang hina, bahkan dalam strata sosial derajat perempuan menempati urutan paling bawah sekaligus tidak bisa mendapatkan pendidikan selayaknya kaum Adam. Sangat terbelakang. Begitu banyak kisah ratusan bayi perempuan masa Jahiliyyah yang dikubur hidup-hidup karena dianggap telah menjadi aib.

Kedatangan Islam mendobrak segalannya. Nabi memperlakukan wanita sebagai mitra pria yang sejajar, saling mendukung, bukan sebagai budak, yang hanya melayani. Rasulullah menggambarkan wanita sebagai sosok yang aktif, sopan, dan terpelihara akhlaqnya. Maka tidak berlebihan bila dikatakan bahwa Nabi Muhammad adalah tokoh pembebasan wanita pertama, pelopor emansipasi.

Aisyah RA
Di masa Rasulullah, banyak sahabat perempuan yang aktif berdiskusi di masjid, menguasai tafsir dan ta’wil Al-Qur’an, serta meriwayatkan ribuan hadits. Mereka mampu menjadi ahli agama sebagaimana sahabat laki-laki pada umumnya.

Pada zamannya, Aisyah RA, yang memiliki julukan “Humairah” (Yang Pipinya Kemerah-merahan), dikenal sebagai wanita yang sangat cerdas sejak muda. Begitu cerdasnya, hingga Rasulullah sendiri memberikan kepercayaan kepadanya untuk memberikan jawaban atas sebagian masalah umat. Tidak kurang dari 1.210 hadits Nabi yang telah diriwayatkan oleh Aisyah RA, dan sekitar 300 di antaranya telah diriwayatkan kembali secara bersama oleh ahli hadits Al-Bukhari dan Muslim.

Aisyah RA bisa dikatakan sebagai representasi ulama perempuan di masa itu. Ia dikenal sebagai wanita yang memiliki pengetahuan luas dalam bidang hadits, fiqih, sejarah, tafsir, dan astronomi. Aisyah RA, yang juga diberi gelar “Ummu Al-Mu’minin” (Ibu Orang-orang Beriman), telah banyak menyerap langsung ilmu dari Rasulullah. Tidak aneh jika kemudian ia menjadi tempat bertanya bagi banyak sahabat dan menjadi guru para tabi’in.

Pada masa Nabi Muhammad SAW posisi wanita justru mengalami mobilitas vertikal. Gerak mereka dan kesempatan mereka untuk berpartisipasi dalam berbagai bidang, khususnya bidang keulamaan atau keilmuan, terbuka luas. Sumbangan mereka bahkan sangat signifikan dalam upaya transformasi masyarakat ke arah yang lebih egaliter.

Wanita memiliki peran dan kewajiban yang sama dengan pria, termasuk yang berkaitan dengan urusan publik, namun tetap sejalan dengan Al-Qur’an dan sunnah. Istri Baginda Nabi, ada yang terlibat dalam peperangan dan urusan kenegaraan. Itu karena ajaran Islam dijalankan secara konsekuen berdasarkan pesan Al-Qur’an.

Mengenai pendidikan, Nabi Muhammad tidak pernah membuat garis perbedaan antara laki-laki dengan perempuan. Seperti yang pernah diucapkannya dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ibn Majah, Al-Baihaqi, dan Ibn Abd Al-Barr, “Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim.”

Menurut Prof. Huzaimah, sebagian besar ulama menafsirkan, kata “muslim” mencakup lelaki dan perempuan. Sehingga menuntut ilmu itu wajib bagi keduanya. Dalam riwayat lain, “Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim dan muslimah”.

Pendidikan membuat wanita di masa Rasulullah menjadi bagian dari sebuah masyarakat yang kritis dan cerdas.

Rabi’ah Al-Adawiyyah
Sepeninggal Nabi Muhammad SAW, wanita juga tidak hanya menjadi mufasir atau muhadist, tetapi juga menjadi pakar dan pengawal tasawwuf. Prototipe sufi perempuan tentu saja Rabi’ah Al-Adawiyyah (100-180 H/ 718-796 M). Banyak sumber meriwayatkan, keilmuan dan kesufian Rabi’ah melampaui kolega laki-laki.

Cinta yang dalam kepada Allah SWT membuat Rabi’ah tidak menikah. “Bagaimana mungkin aku mampu menjadi seorang istri mendampingi suami di ranjang sedangkan waktu malam aku habiskan untuk melaksanakan shalat dan waktu siang untuk berpuasa? Bukankah sikapku akan berubah apabila aku menikah, dari bebas melakukan ibadah berubah menjadi tidak bebas untuk beribadah?” 

Rabi’ah tegas menolak setiap lelaki yang datang, termasuk pinangan Raja kota Bashrah, Muhammad Bin Sulaiman Al-Hasyimi. Padahal, apabila menerimanya, mungkin ia akan hidup bergelimang harta dan berstatus sebagai permaisuri. Nyatanya, Rabi’ah bukanlah wanita materialistis yang mendamba materi. Ia seorang sufi perempuan yang begitu mencintai Ilahi.

Pendiriannya tidak main-main, ia juga menolak pinangan dari Abdul Wahid bin Zaid, murid Hasan Al-Basri, ulama yang sangat terkenal dengan kezuhudannya, melalui utusannya.

Abdul Wahid, ulama besar di Bashrah, sering datang ke majelis dzikir dan ta’lim yang diselenggarakan Rabi’ah, sekaligus menjadi teman diskusinya. Ia menyangka, Rabi’ah akan bersedia menikah dengannya.

Namun reaksi Rabi’ah ternyata di luar dugaan. Mengetahui hal itu denyut jantung Rabi’ah berdebar semakin kencang. Kedua matanya seakan-akan menyala menahan amarah. Tiba-tiba Rabi’ah memandang Abdul Wahid ibarat mayat hidup tak bernyawa. “Sebagai seorang murid setia ulama besar Hasan Al-Basri tidak selayaknya engkau mempunyai pikiran tentang pernikahan itu. Apakah Abdul Wahid telah melupakan apa yang telah diajarkan oleh gurunya? Katakanlah kepada Abdul Wahid bahwa mulai hari ini aku tidak bersedia lagi bertemu dengannya.”

Hanya Hasan Al-Basri yang memahami pendirian Rabi’ah, yang juga terkenal sebagai pendidik hidupnya ini. Walaupun demikian, ia tetap mengajukan pertanyaan mengapa Rabi’ah urung menikah.

Jawabannya sederhana namun begitu indah, “Nikah itu sangat penting bagi orang yang mempunyai pilihan. Sedangkan aku tidak mempunyai pilihan. Aku sudah bernadzar dan mengambil keputusan untuk menghabiskan waktuku untuk beribadah kepada Allah SWT. Aku telah memutuskan hidup di bawah perintah-Nya.”

Demikianlah Rabiah menghabiskan 80 tahun masa hidupnya di dunia dengan menjauhi hal duniawi dan hanya merindukan saat-saat bertemu Rabb-nya.

Selain mereka, ada juga Sayyidah Nafisah binti Hasan Al-Anwar bin Zaid bin Hasan bin Ali dan Sayyidah Fathima Az-Zahra, putri Rasululullah SAW (145 H-208 H/ 762-823 M).

Sayyidah Nafisah terkenal sebagai seorang yang zuhud, rajin beribadah, baik yang wajib maupun yang sunnah. Wanita yang telah hafal Al-Qur’an sejak usia muda ini menguasai ilmu hadist dan tafsir. Bahkan cicit Rasulullah ini pernah menjadi guru ulama terkenal Imam Syafi’i ketika mengikuti halaqah di kota Fustat, Mesir. Imam Syafi’i dan banyak ulama lain hampir setiap hari datang ke rumahnya untuk mengaji kepadanya.

Dalam catatan riwayat hidup ulama laki-laki yang terkenal seperti Imam Syafi’i, tidak jarang terdapat keterangan tentang guru-guru perempuan mereka. “Tidak terdapat tanda-tanda bahwa mereka segan atau malu belajar kepada pakar-pakar perempuan tersebut.”

Kembali ke pra-Islam
Sayangnya, beberapa abad sepeninggal Rasulullah, posisi sosial wanita, yang semula membaik, kembali mengalami krisis. Tidak hanya kualitas, namun juga kuantitas. Bukannya stabil secara sosial, posisi perempuan malah berbalik kembali ke nilai-nilai pra-Islam.

Ada empat faktor yang, menurut Prof. Huzaimah, menyebabkan mundurnya peran wanita.

Pertama, faktor kultural atau budaya. “Budaya kita, baik di Arab maupun Indonesia, menganut sistem patriarki, sistem tata kekeluargaan yang mementingkan garis turunan bapak.”

Sistem ini membentuk peran antara perempuan dengan laki-laki berdasarkan jenis kelamin. Laki-laki sebagai kepala keluarga memiliki peran di publik, mencari nafkah. Sementara perempuan sebagai istri memiliki tugas di ranah domestik, mengurus rumah. Posisi ini menuntut perempuan betanggung jawab sepenuhnya sebagai ibu rumah tangga: menyapu, mengepel, memasak, mencuci, dan mengurus anak, sehingga mengungkung dirinya dari kegiatan publik.

Peran ini bukanlah kodrat atau bahkan kewajiban dari Allah SWT, melainkan konstruksi sosial-budaya patriarki. Secara fisik, laki-laki dan perempuan memang berbeda. Ini merupakan kodrat. Kodrat perempuan menstruasi, mengandung, melahirkan, dan menyusui. Sementara laki-laki memiliki jakun, jenggot, dan sebagainya. Dan perbedaan kodrat tersebut bukan alasan untuk mendiskriminasikan peran dan kesempatan perempuan.

Mengurus anak dan melakukan pekerjaan rumah lainnya merupakan tugas bersama, suami dan istri tidak bisa dibebani berdasarkan jenis kelamin semata, hanya porsinya yang berbeda. Terjadi bias dalam kehidupan sehari-hari. Suami memaksa istrinya untuk tinggal di rumah dengan berbagai tugasnya.

Dalam Al-Qur’an dijelaskan, “Rabbigfirli wa liwalidaya war hamhuma kama rabbayani shagira”. Bagian kalimat “kama rabayani” menjelaskan keduanya: ayah dan ibu, yang telah mendidik sejak kecil. Doa itu tidak membedakan khusus untuk ibu saja, yang telah mendidik sejak kecil, ”kama robakni”. “Apakah adil bila sang anak mendoakan kepada keduanya akan tetapi yang sepenuhnya bertanggung jawab mendidik hanya sang ibu?” kata Prof. Huzaimah.

Peran dalam kehidupan rumah tangga, laki-laki memiliki tugas sebagai kepala keluarga dengan beban mencari nafkah. Ini logis, dengan alasan kodrat perempuan tersebut, sehingga tidak masuk akal bila dalam keadaan mengandung tua ia juga dibebani menjadi kepala keluarga yang harus mencari nafkah. Terjadi kerja sama saling mengisi antara keduannya.

Ini bukan diskriminasi, seperti yang dituduhkan aktivis feminisme Barat, namun pembagian tugas dan peran. Perbedaan jenis kelamin untuk saling melengkapi, membantu, dan tolong menolong. Islam tidak pernah memberatkan umatnya. Ada perbedaan yang jelas antara kodrat dan konstruksi sosial-budaya. Kemudian budaya patriarki pada akhirnya berimbas pada minimnya kesempatan perempuan memperoleh pendidikan.

Sehingga lemahnya pendidikan menjadi faktor penting kedua dalam menghambat kemandirian wanita. Kesempatan bagi mereka untuk mendalami pengetahuan, baik keagamaan maupun pengetahuan umum, secara mendalam, sehingga kemudian dapat dikatakan sebagai seorang yang alim (orang yang berilmu), terhadang oleh berbagai persoalan.

Budaya patriarki sering kali menganggap wanita tidak layak mendapatkan pendidikan yang tinggi, dengan alasan bahwa mereka pada akhirnya mesti kembali ke urusan domestik. Hal inilah yang menyebabkan wanita hampir tidak mendapatkan prioritas dalam kesempatan pendidikan. “Lantas bagaimana seorang ibu bisa mendidik anak-anaknya bila ia tidak memiliki pendidikan yang memadai, hendak menjadi apa mereka ke depan yang nota bene generasi penerus?” kritik Prof. Huzaimah.

Islam sendiri dengan tegas mewajibkan menuntut ilmu bagi muslim dan muslimah. Sementara UU Indonesia juga mengatur wajib belajar sembilan tahun bagi warga negaranya, baik laki-laki maupun perempuan.

Kalaupun pada akhirnya wanita Indonesia saat ini memiliki kesempatan besar dalam mengakses pendidikan, budaya patriarki lagi-lagi menghambat kebebasan mereka. Kurikulum pendidikan Indonesia, menurut Prof. Huzaimah, bias gender. Contohnya, pada pelajaran Bahasa Indonesia pada Tingkat Dasar, berbagai literatur memberikan contoh: ibu memasak di dapur, ayah membaca koran. Nina bermain boneka, Andi bermain bola. “Apakah tidak ada contoh lain, yang adil gender, memasak bukan tugas perempuan semata, begitu pun membaca koran,” kata Huzaimah.

Rendahnya wanita berpendidikan juga menyebabkan rendahnya partisipasi mereka dalam kehidupan keagamaan. Di Indonesia, hanya ada beberapa nama ulama perempuan yang melengenda, sebut saja misalnya Nyai Ahmad Dahlan (1872-1946), istri pendiri Organisasi Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan.

Ia termasuk wanita yang mempelopori agar kaumnya membuang kepercayaan kolot, dengan memperjuangkan hak-hak kaum wanita yang setara dengan kaum pria.

Pengorbanannya sangat besar, terutama ketika kala itu harus menghadapi berbagai rintangan dan celaan dari kaum tua yang menganggap sepak terjangnya “terlalu bebas dan melanggar kesusilaan”.

Kemudian Rahmah El-Yunusiah (1900-1969), ulama asli Padang Panjang yang sangat alim keilmuannya. Rangkayo Rasuna Said (1910-1965), wanita asli Maninjau, Sumatera Barat, adalah pelopor gerakan kaum muda Minangkabau sekaligus pembaharu dan pemikir yang progresif.

Yang tidak kalah diperhitungkan adalah Sholihah Wahid Hasjim (1922-1994), istri K.H. A. Wahid Hasjim, putra Hadlratusy Syaikh K.H. Hasjim Asj’ari, salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama. Keilmuannya pada masa itu sulit ditandingi, apalagi peran dan kiprahnya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Saat ini kita mengenal Prof. Tuti Alawiyah. Putri ulama terkenal Betawi K.H. Abdullah Sya’fi’i ini dikenal sebagai muballighah sukses. Dakwahnya telah melanglang buana. Ia juga pendiri organisasi Badan Kontak Majelis Ta’lim (BKMT) Indonesia. Melalui majelis ta’im ia menyuarakan pentingnya pendidikan wanita seperti halnya pria. Salah satu prestasinya, ia pernah menjabat menteri negara pemberdayaan perempaun di era Pak Habibie.

Berikutnya yang masih sezaman dan bisa dikategorikan sebagai ulama perempuan kontemporer adalah Prof. Huzaimah T. Yanggo, M.A. Narasumber alKisah ini adalah ulama perempuan berpendidikan akademis yang sangat diperhitungkan keilmuannya. Berbagai karyanya juga telah mewarnai khazanah keislaman di Indonesia. Tidak hanya karya fiqih perbandingan, sesuai dengan bidangnya, namun juga karya tafsir, yang diselesaikan bersama kolegannya, Dr. Faizah Ali Sibromalisi, putri bungsu K.H. Ali Sibromalisi Kuningan, yang juga cucu ulama Betawi kenamaan Guru Mughni.

Deretan nama ulama perempuan tersebut belumlah berimbang dengan ulama laki-laki. “Tidak perlu melakukan penelitian untuk membuktikan hal ini. Berapa banyak perempuan yang menjadi pemuka agama, jumlahnya masih sangat di bawah ulama laki-laki. Terlebih ulama perempuan yang memiliki karya ilmiah,” kata Prof. Huzaimah.

Faktor ketiga, tantangan yang muncul dari diri sendiri. Tidak sedikit wanita merasa ragu dan kurang percaya diri dengan kemampuannya untuk tampil sebagai wanita mandiri. Ketika lingkungan telah mendukung dan mempercayai kapasitasnya sebagai pemimpin, misalnya, ia merasa tidak memiliki potensi untuk itu dan lebih memilih pasif. Ia juga tidak memiliki keberanian keluar dari jalur mainstream.

Keempat, dukungan keluarga, masyarakat, negara, dan tatanan global. Wanita telah memiliki kemampuan dan keahlian seperti pria, bahkan terkadang melebihi, sayangnya lingkungan sekitar tidak memberikan kesempatan, karena dilihat sebagai perempuan. Kesempatan itu diberikan kepada pria.

Tokoh sekaliber Prof. Huzaimah pun pernah merasakan kisah menyedihkan terkait posisinya sebagai perempuan sekitar 20 tahun silam.

Suatu ketika ia pernah diminta menggantikan koleganya untuk menghadiri undangan di sebuah lembaga ilmu pengetahuan.

“Ketika mencoba memasuki ruangan, saya dihadang oleh panitia dan diminta keluar. Alasanya, karena saya seorang perempuan.

Meski saya membawa undangan, mereka tidak menghiraukan saya. Meski telah berargumen sekian lama untuk meminta memasuki acara, tetap saja usaha saya sia-sia.

Untungnya, saya berjumpa dengan Salim Seggaf Al-Jufri, menteri sosial. Ia adalah murid saya ketika di Al-Khairat Palu, Sulawesi. Salim-lah yang mengizinkan saya masuk dan memberikan kursi, itu pun di posisi buncit,” tutur Prof. Khuzaimah mengenang.

Jelas, menurutnya, ini harus diberantas. “Tidak mudah memang. Butuh kerja sama dan bantuan semua pihak dan waktu lama. Namun kalau kita tidak memulainya saat ini, lantas tunggu kapan lagi?”

Kartini Masa Kini
Di abad ke-21 ini, secara umum dunia wanita masih terkungkung dan belum sepenuhnya merdeka. Hal tersebut juga terjadi di beberapa negeri Islam dan negeri mayoritas berpenduduk Islam, termasuk di Indonesia. Perkembangan ulama perempuan berjalan begitu lambat.

Situasi seperti ini tentunya tidak harus terjadi. Adannya ulama perempuan yang memiliki kepekaan pada hak wanita akan membuat suara dan peran perempuan, yang selama ini termarginalkan, dapat terangkat ke permukaan.

Penegakan nilai-nilai Islam di muka bumi ini sejak awal telah membawa semangat egaliter. Yakni bahwa semua manusia mempunyai hak yang sama untuk menjadi manusia yang bermartabat, termasuk mendapat pendidikan dan pengakuan akan keahliannya.

Pengakuan terhadap keulamaan perempuan dan sekaligus upaya melakukan penyemaian berangkat dari nilai kesetaraan dan keadilan, sebagai nilai fundamental Islam, agama pembawa rahmatan bagi alam semesta.

Prof. Huzaimah berharap, momentum Perayaan Hari Kartini menjadi tonggak kelahiran Kartini-Kartini masa kini, ulama perempuan yang mumpuni. Wanita pernah memiliki peran penting dalam sejarah perkembangan Islam, dan sekarang waktunya untuk kembali berperan lebih dari yang telah ada. Tentunya tetap dalam koridor Al-Qur’an dan sunnah. Semoga....

Siti Eliza

Islam di India: Sejak Abad Pertama Hijriyyah

Islam masuk ke India melalui dua jalan. Pertama, melalui Pantai Barat India, sebagai pintu masuk Islam dari Semanjung Arab Selatan. Kedua, melalui bagian Barat Laut, yaitu Afghanistan dan Turki.

Hubungan antara negara Arab dan India sebelum kedatangan Islam sudah lama terjalin baik, terutama dalam hubungan perdagangan. Sejak lama ramai orang-orang Arab yang berlayar ke India untuk berniaga dan mencari bahan makanan.

Hubungan antara dua negeri tersebut hanya melalui jalur laut. Banyak kapal layar bangsa Arab dan India hilir-mudik di perairan Laut Arab dan Teluk Persia dan terdapat juga yang terus ke bagian selatan Semenanjung Arab menuju Yaman dan Laut Merah. Hampir keseluruhan pantai barat India menjadi tempat berlabuhnya kapal-kapal Arab yang hendak berlayar ke Cina, Asia Timur, dan Asia Tenggara.

Menurut Hamka dalam bukunya, Sejarah Umat Islam, pada tahun 684 M, atau pada abad pertama Hijriyyah, di bahagian barat Sumatera terdapat satu perkampungan Arab. Jadi orang Arab memang sudah lama berlayar mengarungi Lautan India dalam perjalanan mereka menuju Asia Tenggara dan Cina. Dan sudah menjadi kelaziman pula kapal-kapal bangsa Arab singgah di Pantai Barat India untuk menambah persiapan bahan makanan dan kelengkapan yang diperlukan.

Di samping itu buku-buku sejarah memang banyak menyebutkan bahwa pantai barat India, seperti Gujarat, Malabar, Kerala, dan Bombay merupakan pusat perdagangan dan tempat pertukaran barang-barang yang datang dari Timur dan Barat.

Delegasi Utsman RA
Jalur pelayaran bangsa Arab melalui lautan India dan sering kali kapal-kapal mereka singgah di sekitar pantai barat India. Di samping menjalankan perniagaan, mereka pun berusaha menyebarkan agama Islam ke India, sebagaimana yang terjadi di Nusantara.

Khalifah Utsman RA, khalifah ketiga yang berkuasa antara 23 H hingga 25 H/644-656 M pernah mengirim utusannya ke India untuk melihat dari dekat dan mempelajari situasi India. Rombongan utusan, yang dipimpin Hakam bin Jabalah Al-Abdi, berhasil masuk wilayah Sind, atau Pakistan Selatan sekarang.
Setelah melihat keadaan sekitarnya, mereka pulang menghadap Khalifah dan menceritakan keadaan wilayah Sind dengan bersyair:

Air di sana sangat sedikit
pencurinya garang
tanahnya tandus

Jika dikirim ke sana tentara yang banyak mereka akan mati kelaparan
dan jika dalam jumlah sedikit
mereka akan lenyap dan musnah


Mendengar keterangan tersebut, keinginan Khalifah Utsman RA untuk mengirim tentaranya tertahan. Namun ia beroleh manfaat dari kabar yang dibawa delegasi tersebut, hingga ia mengetahui dengan lebih dekat adat-istiadat masyarakat setempat dan juga dapat mengetahui jalan yang menghubungkan Arab dan India hingga tidak menjadi kesulitan yang besar untuk “menaklukkan” benua kecil itu pada suatu saat kelak.
Setelah melewati beberapa pergantian kekhalifahan, pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan, khalifah kelima Dinasti Bani Umayyah, muncullah inisiatif untuk menaklukkan India. Namun usaha penaklukan India baru terlaksana pada masa pemerintahan putra Abdul Malik yang bernama Al-Walid atas saran gubernur Irak, Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi.
Tahun 87 H/706 M, Khalifah Al-Walid mengirim pasukan sebanyak enam ribu orang ke wilayah Sind di bawah pimpinan seorang panglima yang masih muda, Muhammad bin Qasim Ats-Tsaqafi, yang ketika itu baru berusia 17 tahun, dengan seorang pembantunya, Abul Aswad Jahm bin Zuhair Al-Ju’fi.

Penaklukan Kota demi Kota
Muhammad bin Qasim bersama pasukan perangnya berangkat ke India melalui jalur darat dan melintasi wilayah Sind. Wilayah Sind ketika itu di bawah kekuasaan Kerajaan Dahar, yang berpusat di kota Dibul.
Dikisahkan, saat itu Kerajaan Dahar menjadi penghalang bagi masuknya Islam ke tanah India. Karenanya, Muhammad bin Qasim terlebih dulu merancang untuk membuang batu penghalang tersebut.

Muhammad bin Qasim mengerahkan tentaranya ke kota Makran, karena kota tersebut merupakan pembuka jalan pada penaklukan selanjutnya. Kota Makran pun dapat ditaklukkan dengan mudah. Setelah itu, kota demi kota, termasuk Qanzbur, Armail, dan Dibul, pun jatuh ke tangan pasukan kaum muslimin.
Di kota Dibul, ibu kota Kerajaan Dahar, panglima terpaksa menghadapi tantangan yang sangat hebat dari penduduk kota tersebut. Namun, berkat kesungguhan dan keteguhan Muhammad bin Qasim, pasukan muslimin berhasil merebut benteng pertahanan kota ini dan menguasainya.

Setelah mengetahui berita jatuhnya kota itu, raja Dahar berupaya melarikan diri menuju kota Makran. Akan tetapi pasukan kaum muslimin terus mengepungnya dan akhirnya raja itu dapat ditangkap.
Muhammad bin Qasim Ats-Tsaqafi meneruskan serangannya ke kota-kota lain, seperti Sawandai, Rurr, dan Multan, sehingga keseluruhan wilayah Sind itu dapat dikuasai.

Setelah berhasil menaklukkan seluruh wilayah Sind, Khalifah Al-Walid melantiknya sebagai gubernur di wilayah tersebut.

Demi mengingat jasa-jasa besar yang ditorehkan pemuda Muhammad bin Qasim, seorang penyair Arab memujinya:

Dalam usia tujuh belas tahun
ia sudah dapat membangun negeri
Sedangkan kawan-kawan sebayanya
ketika itu sedang asyik bermain

Tapi malang nasib pahlawan muda yang berjasa besar dalam mensyiarkan Islam di tanah Sind ini. Pada masa pemerintahan Sulaiman bin Abdul Malik, pengganti Khalifah Al-Walid, ia pun dipanggil menghadap khalifah ke Damaskus (Syria), ibu kota pemerintahan Islam ketika itu. Bahkan dengan paksa, ia ditangkap dan diikat kedua tangannya dan dibawa ke Damaskus. Penduduk Sind amat bersedih menyaksikan peristiwa yang menimpa diri Muhammad bin Qasim.

Tak lama setelah itu terdengarlah berita bahwa Muhammad bin Qasim wafat di dalam penjara.
Tindakan Khalifah Sulaiman terhadap Muhammad bin Qasim tersebut dilatarbelakangi adanya faktor intrik politik antara dirinya dan keluarga Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi, dan Muhammad bin Qasim termasuk dalam keluarga Hajjaj bin Yusuf.

Sementara pihak menilai, seandainya panglima muda ini tidak dipanggil pulang ke Damaskus, tentu keadaan India tidak seperti sekarang ini. Boleh jadi India saat ini menjadi negara Islam yang kuat. Namun demikian nama Muhammad bin Qasim tetap harum dan dikenang oleh masyarakat muslimin India, terutama di daerah Sind dan sekitarnya.

Hanafiyah dan Syafi’iyah
Setelah Muhammad bin Qasim wafat, kedudukan kaum muslimin mulai goyang dan melemah. Tiga abad kemudian, barulah kedudukan mereka menguat kembali dan sangat berpengaruh setelah kedatangan Sultan Mahmud Al-Ghaznawi dari Afghanistan. Sultan ini berjasa dalam mendirikan kerajaan Islam di tanah India tersebut.

Gerakan yang dipimpin Sultan Mahmud Al-Ghaznawi datang melalui celah-celah gunung yang curam di Afghanistan, menembus Genting Khaibar yang terkenal curam.

Dengan kedatangan Sultan Mahmud, India mulai membuka lembaran baru dalam sejarahnya, yaitu berada di bawah kekuasaan Islam secara mutlak. Peristiwa ini terjadi di akhir abad keempat Hijriyyah.
Selain raja-raja, nama-nama kaum ulama dan dai juga banyak memenuhi halaman-halaman buku sejarah India. Mereka datang semata-mata untuk mensyiarkan agama.

Pengaruh mereka di tengah-tengah masyarakat lebih kuat dan mendalam dari pengaruh para raja, yang lebih mementingkan kedudukan dan perluasan daerah kekuasaan.

Di antara ulama yang terkenal ialah Syaikh Ismail Al-Lahori (w. 448 H/1056 M), yang berhasil mengislamkan puluhan ribu penduduk Lahore, Syaikh Mu’inuddin Al-Jisyti (w. 627 H/1230 M), yang telah mengislamkan ratusan ribu penduduk Ajmir, Syaikh Fariduddin Al-Ajwadi (w. 664 H/1266 M) dan Syaikh Ali bin Syihab Al-Hamdzani (w. 784 H/1382 M), yang berhasil mengislamkan sebagian besar penduduk India lainnya.

Masih banyak lagi kaum ulama yang berjasa besar dalam dakwah Islamiyah di kalangan masyarakat India, seperti yang disenaraikan dalam kitab Al-Muslimun fi al-Hind, karya Sayyid Abul Hasan Ali An-Nadwi.
Selain para ulama yang datang dari lereng pegunungan Afghanistan, India diramaikan pula dengan kedatangan para ulama dari Semenanjung Arab Selatan, seperti Yaman dan Hadhramaut, yang turut berdakwah dan menyebarkan agama Islam di India bersama para saudagar Islam yang berjiwa dakwah. Orang-orang seperti ini pulalah yang membawa agama Islam ke tanah Melayu dan sekitarnya.

Pemahaman agama atau madzhab yang dianut kaum muslimin India, yaitu Madzhab Hanafi dan Madzhab Syafi’i, menunjukkan kenyataan sejarah tersebut. Dapat disimpulkan, Islam masuk ke India melalui dua jalan. Pertama, melalui Pantai Barat India, sebagai pintu masuk Islam dari Semanjung Arab Selatan. Dan kedua, melalui bagian Barat Laut, yaitu Afghanistan dan Turki.

Kebanyakan kaum muslimin yang menetap di India sebelah barat dan selatan menganut Madzhab Syafi’I, karena mereka menerima Islam dari Semenanjung Arab yang dibawa oleh orang-orang Yaman dan Hadhramaut, yang bermadzhab Syafi’i. Sementara kaum muslimin India yang menetap di bagian utara dan timur, hampir keseluruhannya bermadzhab Hanafi, sebab mereka menerima ajaran Islam dari orang-orang Afghanistan dan Turki, yang kebanyakannya bermadzhab Hanafi.

IY

Demi Menemukan Islam, Anna Stamou Rela Jadi "Pasien" Para Filsuf

Demi Menemukan Islam, Anna Stamou Rela Jadi
Anna Stamou

REPUBLIKA.CO.ID, ATHENA -  Salah satu penghargaan terkemuka Muslim internasional di Eropa baru-baru ini diberikan kepada seorang wanita Yunani. Manajer humas dari Asosiasi Muslim Yunani, Anna Stamou, dianggap sebagai satu dari 10 wanita Muslim dengan pengaruh yang besar dan yang paling positif di Eropa.

Penggagas penghargaan, adalah European Muslim Professionals Network (CEDAR), yang didukung oleh Institute of Strategic Dialogue, atau dikenal juga dengan nama “Three Club”. Seremonial pemberian penghargaan dilakukan akhir tahun lalu di Madrid, Spanyol.

Tak banyak yang tahu, enam tahun yang lalu ia adalah seorang mualaf. Ia menemukan Islam setelah bergulat dengan kegelisahan dirinya.

"Pencarian saya telah lama, saya selalu mencari jawaban. Dalam pencarian saya tentang kebenaran, aku tidak bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan," ujarnya, tentang perjalanan batinnya.

Sejak sekolah menengah, Anna punya minat yang tinggi di bidang sains. Dalam mata pelajaran ini, dia selalu unggul. Imbasnya, dalam menemukan jawaban atas kegamangan batinnya, ia bermain logika.

"Jadi, saya berkonsultasi ke beberapa sekolah filsafat, bertemu banyak filsuf. Saya ditangani mendalam dengan Pythagoras," ia tersenyum menjelaskan.

Selama pencarian ini, ia bertemu dengan suaminya sekarang. Saat itu, mereka sama-sama bergabung sebagai  sukarelawan organisasi Doctors of the World, selama perang di Irak. Dari pria inilah, ia banyak menemukan pengetahuan tentang Islam.

Namun, ia tak menerima mentah-mentah omongannya. Anna mulai meneliti lebih dalam ajaran-ajarannya. "Saya pikir ini karena ilmu yang saya  peroleh dari sekolah bahwa Islam adalah sebuah agama inferior dan terdistorsi. Islam meskipun telah memberi saya jawaban, saya berkata pada diri sendiri bahwa saya harus belajar lebih banyak tentang agama ini," katanya.

Di Yunani, Islam kerap rancu dengan Turki. Pasalnya, kebanyakan Muslim di Yunani berasal dari Turki. Buku-buku keislaman, umumnya menggunakan bahasa mereka. "Meskipun ada ribuan Muslim Yunani, saya tidak mengerti mengapa tidak ada buku yang diterbitkan dalam bahasa Yunani," ujarnya. Ia mempelajari Islam dari buku-buku berbahasa Inggris dan Prancis.

Dia beruntung mengalami transisi dari agama lamanya menuju Islam didampingi oleh penerimaan dari sisi keluarga dan teman-temannya. "Saya belum bertemu reaksi negatif. Beberapa orang mungkin memiliki pertanyaan, tapi tak pernah ada tendensi negatif," ujarnya, yang mengaku dengan senang hati akan menjelaskan agama barunya.

Di sisi lain, ia juga menjaga hubungan dengan mereka yang beda agama secara baik, termasuk keluarganya. "Kini saya mengenakan jilbab, dan tak masalah bagi mereka," katanya. Ia juga akan hadir di tengah keluarganya saat mereka merayakan hari besar agama.


"Jilbab adalah bagian dari iman. Ingat, hanya bagian, Anda dapat memilih untuk mengikuti atau tidak. Ini adalah pilihan Anda," katanya. Ia menyatakan, adalah salah anggapan publik Barat yang menyamakan jilbab sebagai simbol penindasan atas kaum perempuan. "Jilbab adalah masalah pilihan. Saya mendukung mereka yang memperjuangkan hak mereka untuk memakainya."

Ia mengatakan, dasar dari semua masalah adalah hidup berdampingan secara damai dan toleransi. "Selama Ramadhan, kami makan bersama dengan teman-teman Kristen kami, ini adalah sesuatu yang tidak mudah ditemukan di Eropa. Selain itu, putri saya mencintai dan bersemangat untuk Natal. Mereka juga ada di acara Paskah keluarga," tambahnya.

Saat Idul Fitri, hal sama dilakukan padanya. Bahkan, para mahasiswanya bergantian menyalami dan memeluknya. "Saya beruntung menjadi bagian Yunani. Demokrasi ada di sini," ujar dosen kimia di dua perguruan tinggi Yunani ini.
Redaktur: Siwi Tri Puji B
Sumber: www.greeksrethink.com, Today Zaman

Ketika Sukses "Menggenggam" Dunia, Eddie Redzovic Rindu Islam

Ketika Sukses
Eddie Redzovic

REPUBLIKA.CO.ID, CHICAGO - Cobalah ketik laman web http://www.thedeenshow.com// di mesin pencari Anda. Maka, Anda akan menyaksikan video berisi kisah-kisah inspiratif tentang orang-orang yang menemukan Islam dan perjuangan mereka untuk tetap menjadi seorang Muslim. The Deen Show adalah sebuah perusahaan Muslim yang berusaha untuk memberikan infomasi tentang Islam secara benar dan komprehensif dengan berdasarkan sumber otentik, Alquran dan Sunah. Informasi itu tidak hanya ditujukan pada umat Muslim saja, tetapi juga non-Muslim.

Perusahaan tersebut menyatakan diri tidak berafiliasi dengan organisasi manapun, dan mereka mengutuk keras terorisme serta segala tindakan fanatik atas nama Islam. The Deen Show mulai tayang pada 2006.

Orang yang berada di balik munculnya tayangan tersebut adalah Brother Eddie. Nama aslinya adalah Eddie Redzovic. Dia lahir di New York dari orang tua yang merupakan imigran asal Yugoslavia, tetapi sebagian besar hidupnya lebih banyak dihabiskan di Chicago.

Sebelum mendapatkan cahaya terang dari agama Islam, dunia bawah tanah Chicago adalah teman akrab bagi Eddie. Pada umur yang belum genap 30 tahun, dia sudah berhasil menikmati apa pun yang diimpikan pemuda Amerika, mulai dari uang, mobil, sampai wanita.

Meskipun telah mencapai apa yang diimpikannya, jiwa Eddie masih saja tidak tenang. Pada masa-masa kelamnya, dia menjadikan jalanan dan klub malam sebagai tempatnya mencari ketenangan. Dia menghabiskan masa mudanya di dunia yang penuh dengan kekerasan. Teman-temannya berasal dari geng-geng yang berkuasa di jalanan.

Hingga akhirnya, Eddie menyadari bahwa selama ini dia sendiri. Tidak ada yang benar-benar menjadi teman-temannya. Suatu hari, ketika dia berada di dalam penjara, Eddie menyadari bahwa teman-teman satu geng-nya itu tidak ada seorang pun yang peduli padanya. Ia pun mulai mempertanyakan tujuan hidupnya.

Hidup di penjara membuatnya sadar. Ia mulai belajar agama, khususnya Islam. Ia menyadari, mungkin islam lah yang selama ini dirindukannya.
Namun, ketika dia sudah mulai memeluk Islam, perang belum juga usai. Dia masih harus meyakinkan dirinya tentang agama yang baru dipeluknya itu. Saat ini, Eddie merasa sudah memeluk Islam secara utuh. Dia sudah mengerti tentang konsep Islam itu sendiri.

Islam, menurutnya, adalah bahasa Arab yang artinya menyerahkan diri kepada Sang Pencipta Bumi dan Surga. Setiap manusia di dunia ini menyerahkan hidupnya untuk sesuatu hal, mulai dari bosnya, uang, wanita, fashion, dan berbagai macam gaya hidup. Menurut dia, Islam sebenarnya adalah tempat yang tepat untuk benar-benar menyerahkan diri.

Islam merupakan panggilan untuk menyerah pada pemilik dari segala yang ada di bumi dan langit. “Sebelum saya memeluk Islam, saya tidak melakukan itu,“ ujar Eddie dalam sebuah wawancara dengan saudilife.net. Dia menyadari bahwa hidupnya sebelum memeluk Islam adalah hidup yang menyenangkan, tapi kosong, tanpa adanya kedamaian dan ketenangan.

Lalu, Islam memberikannya harapan dan tujuan hidup yang baru.
“Saya langsung shalat setelah saya mengetahui kebenaran tentang Islam,“ ujarnya. Untuk mencapai ilmu tentang shalat dan seluk-beluk Islam, dia mengaku harus belajar terus-menerus dan banyak membanding-bandingkan.

Meskipun dia memiliki keluarga yang sudah memeluk Islam lebih dulu, dia melihat mereka hanya memeluk Islam sebagai sebuah budaya saja, tanpa mengerti sepenuhnya tentang Islam itu sendiri.

Saat ini, selain menjadi presenter The Deen Show, Eddie juga mengelola sekolah bela diri. Dia mengajarkan Jiujitsu dari Brasil.
Redaktur: Siwi Tri Puji B
Reporter: Rosyid Nurul Hakim

Lisa Smith: Mantan Kru Pesawat Militer yang Terpikat pada Islam

Lisa Smith: Mantan Kru Pesawat Militer yang Terpikat pada Islam
ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, DUBLIN - Di pengujung usia 30-an tahun, hati Lisa Smith berlabih pada Islam. "Sepanjang usia saya, baru kali ini saya menemukan sesuatu yang bermakna dalam hidup," kata lajang yang berasal dari latar belakang ateis ini.
Pilihannya pada Islam, sungguh tak diduga kawan-kawannya di unit transportasi Angkatan Bersenjata Irlandia. Bahwa Lisa tengah memilih agama, semua temannya tahu. Ajaran Budhisme, Kristen, katholik, hingga yahudi, semua dilahap. Yang luput dari perhatian mereka, Lisa ternyata juga mempelajari Islam.
Lisa bergabung dengan Pasukan Pertahanan Udara saat berusia 19 tahun. Ia menjadi seorang prajurit selama lima tahun sebelum bergabung dengan Korps Udara, di mana ia bekerja selama dua tahun sebagai pramugari di pesawat jet pemerintah. Dia sekarang bekerja di unit transportasi tentara.
Berasal dari latar belakang yang "tidak beragama", Lisa yakin gaya hidup pestanya adalah bagian dari pencarian untuk menemukan sesuatu yang bermakna dalam kehidupan.
"Saya tidak punya banyak landasan iman untuk mencari jawaban, misalnya untuk pertanyaan sederhana: mengapa kita ada di sini, apa tujuan kita dalam hidup aku hanya tahu bahwa kami tidak bisa di bumi ini tanpa alasan."
Lisa menghabiskan tahun-tahun pada pencarian dia untuk pemenuhan rohani, dengan membaca "semua hal". Tato di pergelangan tangannya (yang ia berencana untuk membuangnya dengan sinar laser) tertulis I am that I am, yang dipetiknya dari dialog sebuah film yang didasarkan pada tulisan-tulisan Chris Lawson dalam The Moses Code.
"Saya sudah melalui seluruh tahap spiritualitas, dan kemudian aku berpikir bahwa tidak ada Tuhan, hanya kesadaran Tuhan."
Sama seperti warga kulit putih Irlandia kebanyakan, ia juga membenci Islam. "Saat saya melihat gadis-gadis Muslim, dalam benak saya akan berkata, 'mereka ahli membuat bom'," katanya mengenang.
namun begitu mengenal dekat salah seorang dari mereka, sudut pandangnya berubah. "Mereka tampak begitu damai dan  mereka tidak pernah khawatir tentang apapun," ujarnya.
Ketika suatu saat ia berkesempatan membaca Alquran, ia menemukan jawabannya. "Itu petunjuk hidup yang nyata...dan saya merasa banyak pesan-pesan di dalamnya ditujukan untuk saya," ujarnya.
Lisa menghabiskan tiga bulan berikutnya untuk mempelajari Islam. "Hampir 24 jam sehari," katanya mengibaratkan.   April 2011, ia bersyahadat.
Ia beruntung, bosnya di Angkatan Udara memberi dukungan atas keputusannya memilih Islam. Sehari-hari, ia mengenakan pakaian dinas dengan topi menutupi rambutnya.
Dia berharap untuk meninggalkan pekerjaan dalam beberapa bulan mendatang "jika saya menemukan suami yang cocok". Ia berencana untuk mengundurkan diri  dalam dua tahun ini.
Redaktur: Siwi Tri Puji B
Sumber: Independent.ie
Surat Terbuka Mualaf Jennifer Jeffries Tentang Makna Menjadi Muslim
Jennifer Jeffries

REPUBLIKA.CO.ID, NEW HAMSPIRE - Jennifer Jeffries adalah seorang dokter. Dia memutuskan menjadi Muslim di usia dewasa. Berikut ini surat terbukanya seperti yang dimuat di situs being.publicradio.org:

Saya adalah Muslim yang kembali; bersyahadat, masuk Islam. Saya kini tinggal di New Hampshire, sebuah kota dengan 99 persen berkulit putih, seperti saya. Sebagian besar adalah Protestan.

Masa kecil saya dihabiskan di Manchester, yang dulu kental dengan tradisi Katolik. Namun seiring waktu, kota ini menjadi kota multietnis dan agama; tak hanya Katolik, tapi juga Ortodoks, Kristen Protestan dari semua denominasi, Muslim, Yahudi, juga Budha.

Orang-orang pergi ke masjid di hari Jumat. Mereka datang dari  Bosnia, Sudan, Somalia, Irak, Pakistan, Indonesia, India, Suriah, dan negara-negara lain. Saya melihat dua "versi" Muslim; mereka yang tertutup rapat, bahkan dengan cadar, dan Muslim yang masih minum dan merokok.

Sebagai seorang mualaf, pengalaman saya diwarnai oleh kehidupan saya sendiri sebagai seorang wanita terpelajar dari kota kecil di New England - dan dengan perjalanan rohani saya sendiri yang dimulai dari Protestantisme.

Menjadi Muslim berarti bagi saya mencari sebuah kedamaian batin melalui penerimaan struktural yang lembut dan konsisten bahwa saya kembali kepada Allah,  fokus yang lebih besar dari keberadaan saya. Memakai jilbab mengingatkan saya untuk mempertimbangkan tindakan saya dari perspektif Islam; memuji Tuhan sepanjang hari mengingatkan saya untuk berpikir tentang banyak hadiah saya terima, termasuk karunia pelajaran, bahkan ketika mereka mungkin memiliki aspek-aspek yang tidak menyenangkan pada saat itu.

Sebagai seorang mualaf, saya datang pada Islam secara intens dan sengaja, mencerna tidak seperti yang saya  mencerna Kristen sebagai seorang anak, tetapi lebih sebagai orang dewasa. Mempertanyakan dan merenungkan rincian dan implikasi yang tidak jelas bagi saya dalam pengalaman masa kecil saya; Allah. Sebagai seorang mualaf, menjadi Muslim berarti terus-menerus belajar dan bertanya: apa yang harus saya percaya? Apa yang Islam percaya? Apa yang Muslim percaya?

Menjadi Muslim, adalah perjalanan batin yang dahsyat bagi saya. Suara azan, kini terdengar bagaikan himne yang indah bagi saya.   Berdiri di shaf perempuan untuk shalat berjamaah sungguh membuat merasa sama dan indah. Meluangkan waktu sepanjang hari untuk berhenti dan berpikir tentang Tuhan sebanyak lima kali memberi saya perspektif tentang betapa relatifnya kesulitan pekerjaan saya. Menghafal ayat Alquran dan mengulangnya kembali dalam salat memungkinkan saya untuk memikirkan kembali prinsip-prinsip agama dasar, dan bagaimana menerapkannya dalam hidup saya sekarang. Berdiri tegak, membungkuk, membungkuk rendah mengingatkan saya pada salam yang saya pelajari dalam yoga. Namun sungguh indah ketika menggunakan tubuh saya untuk memuji Tuhan, mengisi pengalaman saya sebagai bagian dari dunia Tuhan.

Saya juga menjadi lebih menghargai kehidupan. Menuju peternakan, mengambil domba dan menyembelihnya secara halal, mengingatkan saya pada berharganya hidup dan karunia ang memungkinkan daging untuk tiba di meja makan saya. Saya menyadari di bulan Ramadan bahwa saya bisa menghindari makanan dan minuman dari fajar sampai senja. Hal ini mengingatkan saya pada penderitaan orang lain, dan pentingnya mengendalikan tanggapan pribadi saya sendiri atas aneka kesulitan saya.

Dalam masyarakat multikultural, saya telah memiliki banyak pertanyaan tentang apa  budaya dan  agama yang berbeda.  Juga aneka pendapat yang berbeda.

Feminisme di AS telah membuat menjadi dokter menjadi lebih mudah bagi saya daripada untuk ibu saya 30 tahun sebelumnya.
Aku melihat feminisme dengan sudut pandang yang sangat berbeda dalam perspektif Islam.

Islam mencatat bahwa suami dan istri adalah bagian yang sama. Jenis kelamin melengkapi satu sama lain, tidak meniru atau bersaing satu sama lain. Islam mendudukkan laki-laki dan perempuan dengan hak dan kewajiban yang sepadan.

Saya berharap banyak pada komunitas Muslim untuk tidak melihat dunia luar sebagai  ancaman, untuk tidak melihat dirinya sebagai lebih dari korban, untuk melihat komunitas yang lebih besar  sebagai saudara, bukan saingan. Saya berharap kita akan bekerja untuk memahami perspektif satu sama lain, dan memahami bagaimana perspektif kita sendiri berdampak pada orang lain. Saya meyakinkan untuk melihat kelompok-kelompok antar agama dalam komunitas saya berkumpul untuk belajar lebih banyak tentang satu sama lain, dan mengeksplorasi persamaan dan perbedaan kita bersama-sama. Saya harap saya komunitas Muslim adalah merasa menjadi bagian dari masyarakat yang prural.
Redaktur: Siwi Tri Puji B
Sumber: being.publicradio.org:

Mualaf Steven Longden Kaget Temukan Fakta: Kakek Buyutnya adalah Walikota Muslim Pertama

Mualaf Steven Longden Kaget Temukan Fakta: Kakek Buyutnya adalah Walikota Muslim Pertama
Steven Longden

REPUBLIKA.CO.ID, MANCHESTER - Seperti banyak orang, Steven Longden mengaku identitasnya beragam, baik dalam keluarga, lingkungan, daerah, afiliasi keagamaan, pendidikan, dan hingga etnis. Namun ia kini mengaku bahagia, karena ia kini memiliki "kacamata" untuk memandangnya: keimanannya. "Budaya Islam memainkan peran penting dalam kehidupan saya sekarang," katanya.

Menjadi eksklusif? Steven menggeleng. "Iman saya tidak mengharuskan saya untuk menghindari yang terbaik dari pengaruh budaya lain yang penting dalam hidup saya. Jadi, sebagai seorang mantan Kristen saya dapat bersukacita dalam persahabatan yang saya buat pada tahun-tahun sebelum saya menjadi Muslim," katanya.

Bahkan, ia masih datang ke gereja untuk acara-acara non-agama: pernikahan, merayakan pembaptisan anak seorang kenalan, berpidato saat pelepasan jenazah neneknya yang meninggal. "Saya  diterima, dihargai sebagai Muslim, diakui sebagai orang beriman dalam Tuhan," katanya.

Selama bertahun-tahun, ia bahkan belajar bahwa mualaf kerap efektif menjembatani kesenjangan antara teman dan komunitas agama yang berbeda. "Banyak dari kita telah mengembangkan wawasan multikultural  dan empati lah yang membantu untuk membawa pemahaman dan kepercayaan antara orang-orang di sekitar kita," katanya.

Ia betul-betul lahir dalam keluarga multilatar belakang. Ia berdarah Inggris, tapi besar di Afrika Timur. Sehari-hari, ia berbahasa Urdu, Swahili, dan Inggris.

Melanjutkan pendidikan ke Inggris, ia menikah dengan gadis kulit putih kelahiran Manchester.

Perjalanan spiritual lah yang menyebabkan pasangan muda ini mengenal Islam. Lama mempelajari, ia yakin Islamlah yang dicarinya. Ia bersyahadat. beruntung, keluarga besarnya mendukung, walau mereka tetap pada keyakinan mereka.

Ia mengakui, menjadi seorang Muslim tidak mudah. "Tapi Alquran memang menyebut, setiap kita pasti akan diuji," katanya.

Ia bukan tak merasakan dampak serangan 11 September yang membuat kaum Muslim menjadi bulan-bulanan di seluruh dunia. Namun ia menjalani dengan sabar. "Tapi di luar itu, setelah menganut islam saya merasakan kedamaian, terpesona dan sadar bahwa sebagai seorang Muslim di Inggris, saya merasa sebagai orang paling istimewa di dunia saat ini," katanya.

Lebih bahagia lagi, katanya, saat suatu hari sang ayah memberitahunya, kakek buyutnya adalah seorang Muslim, 92 tahun lalu. Ia menjadi Muslim pada tahun 1898, tepat pada usia 70 tahun. Ia bernama Robert Reschid Longden, kulit putih generasi pertama yang menganut Islam.

Dibesarkan dalam sekte Israel Kristen, dia naik menjadi Walikota Stalybridge pada tahun 1875. Pada 1850 dia menjadi tertarik pada urusan Kekaisaran Ottoman,  yang tidak diragukan lagi, membimbingnya di jalan menuju Islam. Pada 1901 ia menjadi tangan kanan mufti Inggris, Syaikh Abdullah Quilliam, dan terlibat dalam beberapa dialog antaragama pertama  di Manchester.

"Penemuan ini mengejutkan dan menempatkan konversi saya ke dalam perspektif dan telah telah menjadi sumber kebanggaan dan kenyamanan bagi keluarga saya, baik Muslim dan non-Muslim,  dan masyarakat yang lebih luas. Memang, tidak akan menjadi kejutan bagi Anda, tapi ini sesuatu yang luar biasa bagi saya," ujarnya. Ada nada haru dalam ucapannya...
Redaktur: Siwi Tri Puji B
Sumber: being.publicradio.org

Begini Gaya Khotbah Imam 'Nge-Pop' yang Sasar Anak Muda Muslim AS

Begini Gaya Khotbah Imam 'Nge-Pop' yang Sasar Anak Muda  Muslim AS
William Suhaib Webb

REPUBLIKA.CO.ID, LOS ANGELES - Jangan bayangkan dia mengenakan gamis, memelihara cambang panjang, dan berkopiah. Alih-alih berpidato dengan suara lantang mengkritik mereka yang tak berperilaku Islami, imam tinggi berambut pirang ini memulai khotbahnya dengan menceritakan kemenangan klub basket Los Angeles Lakers malam sebelumnya, disambung keterlibatan gengnya saat remaja, sebuah opera sabun TV, baru diakhiri dengan cerita tentang Hari Kiamat.

Suhaib Webb, nama imam itu, juga tak canggung menggunakan bahasa gaul anak muda Amerika. Saat ia
memergoki seorang jamaahnya mengantuk di belakang, secara berkelakar dia berbisik di mikrofon, "Tenang...tidak ada lembur malam ini, Bro."

Beginilah khotbah khas gaya Webb, ulama muda karismatik kelahiran Oklahoma yang masuk Islam beberapa tahun lalu. Jamaahnya berkembang di kalangan Muslim Amerika, terutama kaum muda. Ceramahnya bertabur referensi budaya pop, sebanyak dia menyitir ayat Alquran atau Hadis.

Untuk gayanya ini, ia punya alasan. "Jamaah saya umumnya adalah mualaf atau generasi muda yang lahir dan besar di AS. Apakah kita akan mencapai mereka dengan pesan Arab atau dengan pesan Pakistan? Bukankah akan lebih mudah menjangkau mereka dengan pesan gaya Amerika bukan?" katanya balik bertanya.

Webb, 38 tahun, berasal dari Santa Clara, California. Dia adalah seorang sarjana dan pendidik. Aktif di LSM nirlaba American Muslim Society, ia kini juga menjangkau jamaah yang lebih luas melalui dakwah online di situs pribadinya, Masjid Virtual.

Webb disebut Los Angeles Times sebagai salah satu tokoh muda yang berada di garis depan gerakan untuk menciptakan 'Islam gaya Amerika'; sejalan dengan Alquran dan sunah tapi juga  mencerminkan adat dan budaya Amerika.


Dikenal dengan gaya santai, ia telah membantu mempromosikan ide bahwa Islam terbuka untuk sebuah interpretasi Amerika modern. Kadang-kadang, pendekatannya dianggap kalangan garis keras sebagai 'tampaknya hampir asusila'.

Dalam konferensi Muslim di Long Beach, California, tahun lalu, ia menyarankan bahwa masjid juga merangkul kalangan gay. Setelah itu, ia didatangi oleh seorang imam lokal yang menuduh dia "racun". "Saya katakan kepadanya, 'Terus terang, Anda akan menjadi tidak relevan dalam 10 tahun,'" kata Webb.

Dia fasih dalam bahasa Arab, Quran, dan belajar selama enam tahun di salah satu lembaga terkemuka di dunia Islam, Al-Azhar University di Mesir. Di sanalah ia menyadari, tak semua gaya pendekatan ala Timur Tengah cocok diterapkan di masyarakatnya. "Contohnya saja, berkhotbah dengan lebih banyak menggunakan bahasa Arab,  tidak mampu berkomunikasi dengan jemaat non-Arab, dan tidak terhubung dengan mudah dengan anak muda," katanya.
Muslim AS, katanya, berharap para pemimpin agama mereka  memainkan peran yang lebih luas, lebih
pastoral, kata Hossam Aljabri, direktur eksekutif Masyarakat Muslim Amerika, sebuah kelompok keagamaan dan pendidikan nasional. "Masyarakat menginginkan imam yang bisa datang dan pergi di luar memimpin doa dan membaca Quran. Mereka ingin para imam mengisi peranan sosial konseling dan berurusan dengan tetangga."

Webb mengamini. Prinsip dasar iman tidak akan berubah, katanya, tapi banyak hukum yang  dapat ditafsirkan secara berbeda dalam berbagai komunitas. Tidak seperti beberapa imam, ia tidak keberatan dengan musik dan berkeyakinan Muslim juga boleh merayakan hari libur nasional seperti Hari Ibu dan Thanksgiving.

Namun, mengingat keragaman etnis Muslim AS, menemukan sebuah konsensus untuk Islam Amerika tunggal sangat sulit. Beberapa mendukung reformasi, lainnya menentang perubahan.

Lepas dari itu semua, Webb diterima banyak kalangan, baik dalam Islam maupun di luar Islam. "Dia imam yang paling gampang didekati di AS," kata Nour Mattar, pendiri stasiun radio Muslim pertama di AS. "Dan dia
tidak membosankan untuk didengarkan (ceramahnya, red)."
Redaktur: Siwi Tri Puji B

Sebelum Menjadi Ruqaiyyah, Rosalyn Rushbrook Adalah Penulis Buku-buku Nasrani

Sebelum Menjadi Ruqaiyyah, Rosalyn Rushbrook Adalah Penulis Buku-buku  Nasrani
Ruqaiyyah Waris Maqsood
 

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON - Menyebut nama Rosalyn Rushbrook, publik Inggris pasti akan segera ingat buku-buku pengetahuan dasar Kristen. Peraih gelar sarjana teologi di Hull University ini memang aktif menulis buku-buku bertema Kristen untuk penerbit beberapa arus utama. Bahkan, beberapa bukunya direkomendasikan untuk mengajaran di banyak sekolah di Inggris.

Wanita kelahiran tahun 1942 ini menikah dengan penyair George Morris Kendrick pada tahun 1964 dan kemudian memiliki dua anak. Pernikahan mereka berakhir setelah suaminya berpindah menganut agama Scientologis tahun 1986.

Akhir tahun 1986, ia menemukan hidayah. Ia menerima Islam dan mengganti namanya menjadi Ruqaiyyah.

Pada tahun 1990 ia menikah dengan seorang pria kelahiran Pakistan, Waris Maqsood Ali. Namun sembilan tahun kemudian mereka bercerai karena Waris menikahi sepupunya yang masih muda di Pakistan, demi memungkinkan status istri barunya menjadi warga Inggris.

Setelah menjadi Muslim, ia aktif menulis buku-buku keislaman. Ia menjabat sebagai Kepala Studi Keagamaan di William Gee High School, Hull, Inggris. Ia telah menulis lebih dari empat puluh buku tentang berbagai aspek agama, berkonsentrasi pada antara lain indahnya menganut Islam dan pedoman bagi para mualaf.

Banyak dari buku-bukunya diterbitkan oleh Goodword Press dari New Delhi, termasuk Living Islam, The Muslim Prayer Encyclopedia, dan buku-buku konsultasi bagi remaja. Dia pernah diundang oleh Hodder Headlines untuk menulis buku Islam dalam bab World Faiths dalam seri buku populer di seluruh dunia, Teach Yourself

Dia juga telah menciptakan program yang memungkinkan siswa untuk mempelajari Islam. Buku berjudul Islam ini diterbitkan oleh Heinemann Press pada tahun 1986 dan terus dicetak ulang, dan Do-it-Yourself Coursebook untuk menyertainya yang diterbitkan oleh IPCI. Buku ini telah digunakan secara luas di sekolah-sekolah Inggris selama lebih dari 20 tahun, dan studi DIY kini telah diambil oleh banyak orang mahasiswa, dan kelompok swasta tidak hanya di Inggris tapi di beberapa negara.

Dia ada di antara Muslim Inggris pertama yang menerima penghargaan Muslim News Awards for Excellence pada tahun 2001, dan Muhammad Iqbal Award untuk Kreativitas dalam pemikiran Islam.

Berikut petikan wawancaranya dengan BBC soal keislamannya:

Bagaimana menjadi mualaf di mata Anda?

Tak ada yang lebih mudah dari berpindah menjadi Muslim - momen ketika kita menyadari dengan sungguh-sungguh bahwa Allah itu memang ada, dan seorang pria kelahiran Arab bernama Muhammad adalah utusan-Nya. Kemudian kita bersyahadat. Ini langkah pertama kita menjadi Muslim. Bertakwa, kemudian hati menjadi ihsan.

Dari segi sosial, Islam harus menjadi bagian dari gaya hidup Anda. Bagi mualaf perempuan, maka artinya ada pertaruhan besar menyangkut pembangunan kepercayaan diri. Tak hanya karena cara berbusana juga berubah -- yang pasti akan disertai perubahan sikap keluarga dan orang-orang terdekat -- juga Anda harus bersiap tak disapa seorang pria pun di masjid manapun yang Anda masuki (ia menyampaikannya dengan sedikit bercanda).

Bagimana makna menerima keyakinan Islam?

Menjadi Muslim, artinya mendapatkan keyakinan universal. Kita tak perlu berpura-pura menjadi orang Arab atau Pakistan, untuk merasa memiliki dan dimiliki oleh Islam.

Kita sekarang tahu ada Muslim di setiap tempat di dunia, dari Eskimo hingga Aborigin.

Kita mungkin mengambil nama Arab, atau kita dapat memilih untuk menjaga nama lama kita, itu tidak terlalu penting.


Ada kekecewaan setelah menjadi Muslim?

Kita telah menjadi cukup dewasa untuk menyadari bahwa tidak setiap Muslim adalah orang suci. Mereka adalah juga manusia biasa dan kebanyakan dari kita jauh dari sempurna.

Kita mungkin akan  mendapatkan kekecewaan menemukan bahwa tidak setiap Muslim  hidup dengan cara muslim. Tapi al ini tidak membuat kami menyerah atau menuduh mereka bagian dari kemunafikan, kita hanya melakukan yang terbaik untuk hidup kita sendiri dengan cara terbaik yang kita bisa.

Beberapa Muslim sangat spiritual dalam arti Islam benar-benar menjadi tuntunan hidupnya, sementara beberapa hanya ritualistik dalam berislam.

Tapi kami para Muslim 'pendatang' semakin merasa kita dapat mengambil tempat bersama yang lain dalam hal ini umat yang luas atau keluarga, dan selama kita melakukan yang terbaik, Allah akan memberikan balasan atas niat baik kita.
Redaktur: Siwi Tri Puji B
Sumber: BBC, Islam for Today

STMIK AMIKOM

Mustafa Abdul Jalil, Sang Hakim Pemberontak

Mustafa Abdul Jalil, Sang Hakim Pemberontak
Ketua Dewan Transisi Nasional Libya (NTC), Mustafa Abdul Jalil.

REPUBLIKA.CO.ID, TRIPOLI – Seiring dengan berkelanjutannya perang saudara di Libya, seruan bantuan militer kian intensif dilakukan oleh Dewan Transisi Nasional anti-Qaddafi (NTC). Sang pemimpin dewan pemberontak ini adalah Mustafa Abdul Jalil, seorang hakim terhormat yang hingga kini masih menjabat sebagai Menteri Kehakiman di bawah rezim Qaddafi.

Pembelotannya ke Timur Libya (Benghazi) merupakan landmark dalam pemberontakan Libya, tetapi apakah Abdul Jalil ternoda oleh kedekatannya dengan rezim Qaddafi?

Situs resmi Dewan Transisi Nasional Libya (NTC) adalah sebuah langkah kecil dalam menghilangkan mitos yang mengkhawatirkan dan samar-samar bahwa "tidak ada yang tahu tentang ini pemberontak". Diakui bahwa situs ini menjalankan agenda partisan yang dapat dimengerti dan kontennya jauh dari kekerasan. Tampilan online mereka yang dapat dilihat siapa saja yang terkoneksi internet, merupakan gambaran komprehensif tentang siapa—yang disebut—pemberontak ini dan apa yang mereka inginkan.

Jika dilirik sepintas, halaman situs ini menunjukkan bahwa dari 13 anggotanya yang terdaftar, beberapa diantaranya memperoleh gelar doktor (PhD) dari luar Libya dan sebagian besar berlatar belakang hukum. Oleh sebab itu, tak mengherankan jika ketua dewannya (Mustafa Abdul Jalil), seorang hakim tinggi Libya yang sebagian besar tugasnya diabdikan di kampung halamannya, di Bayda, Timur Libya.

Jalil bertugas di Bayda sejak 1978 hingga akhirnya ditunjuk sebagai Menteri Kehakiman pada 2007—sebuah langkah yang jelas-jelas membawanya ke bawah kepak sayap rezim Kolonel Qaddafi, yang berbasis di bagian barat Libya. Tentu saja, hal ini bukanlah semata-mata penyebab resmi Abdul Jalil ditempatkan dalam posisi tertinggi di NTC.

Abdul Jalil secara luas dikenal di timur Libya—dan di kalangan media asing—berkat pemberontakannya yang menakjubkan melawan rezim Qaddafi. Ia dikirim ke Benghazi untuk menenangkan pemberontakan yang meletus pada Februari lalu, namun setelah melakukan negosiasi dengan pihak pemberontak, menteri berusia 59 tahun ini malah mengumumkan pengunduran dirinya sebagai protes atas kekerasan yang dilakukan terhadap demonstran.

Tindakan dramatis Jalil ini menandai gelombang pemberontakan yang kian menyesakkan nafas Libya. Abdul Jalil adalah anggota pertama rezim Qaddafi yang berbalik arah melawan pemimpin Libya. Namun tindakan itu bukannya tanpa sebab. Setahun sebelumnya, pada Januari 2010, Abdul Jalil telah berupaya mengundurkan diri, menentang rezim Qaddafi dalam masalah tahanan-tahanan politik.

Upaya pengunduran diri pertamanya dinyatakan di hadapan publik—di televisi negara—dan merupakan tantangan paling berani terhadap otoritas Qaddafi dari salah seorang anggota rezimnya yang terkemuka. Namun pengunduran dirinya waktu itu ditolak, kemungkinan besar karena tekanan putra Qaddafi, Saif Al-Islam, yang berusaha mengecat pernis reformasi pada kulit pemerintahan ayahnya yang lapuk.

Memang, Abdul Jalil memiliki reputasi sebagai pembaharu, yang tak diragukan lagi menjadi penyebab pengangkatannya sebagai menteri dan semakin meningkatkan pengaruh Saif Al-Islam. Bocoran kabel diplomatik Amerika menunjukkan bahwa Jalil bersedia bekerjasama dengan AS, dan bahkan ia sangat disukai oleh para stafnya di kementerian kehakiman. Sebuah anomali luar biasa di kantor kementerian mana pun di dunia.

Kelompok HAM internasional, Human Rights Watch (HRW), kerap memuji Abdul Jalil karena tindakannya yang membongkar praktek-praktek kotor rezim Qaddafi menarik perhatian dan secara umum menimbulkan pencerahan. "Saya belum pernah melihat seorang Menteri Kehakiman Arab yang secara terbuka mengkritik lembaga keamanan paling berkuasa di negerinya," kata Heba Morayef, seorang pejabat HRW, Kamis (2/6).

Dan sebuah gambar pun muncul, tentang tokoh yang hampir suci, dan dengan berani berjuang bagi kebebasan HAM di Libya dalam lingkaran Qaddafi. Namun siapa yang akan begitu polos menganggap bahwa setiap operator politik di arena yang demikian bisa membawa salinan buku yang tidak sepenuhnya bisa dihapuskan?

Secara tersirat, adalah masuk akal bahwa Abdul Jalil, setelah mendapatkan sedikit porsi dukungan oposisi sebagai hakim yang adil di kawasan timur yang bergolak, akan terkooptasi ke kantor kehakiman untuk memberikan ilusi reformasi. Kritik mungkin berpendapat, inilah yang membuatnya terlibat dalam rezim Qaddafi sebagai siapa saja. Para pembelanya seharusnya menyarankan, dia punya banyak pilihan selain menerima pengangkatan 2007 dan berusaha meraih apa yang bisa dilakukannya.

Satu contoh yang merusak klaim bahwa Abdul Jalil adalah pembawa obor keadilan melawan Qaddafi adalah laporan koran Prancis L'Express, tentang kasus lima perawat Bulgaria yang dihukum mati di Libya karena dituduh sengaja menginfeksi anak dengan virus HIV berdasarkan perintah dari Amerika Serikat. Bukti-bukti keterlibatan para wanita ini sangat kecil, namun demikian Abdul Jalil dua kali memerintahkan eksekusi mereka. Wanita-wanita tersebut kini telah dibebaskan, tetapi banyak suara di Bulgaria menentang NTC, seraya menyebut-nyebut penyiksaan terhadap warga mereka yang menjadi korban otoritas Abdul Jalil.

Dalam keruhnya dunia politik, seseorang takkan pernah benar-benar yakin akan motif dan aspirasi para pemainnya. Dalam kasus Mustafa Abdul Jalil, orang harus mengakui bahwa saat ini ia jelas-jelas lawan Qaddafi, dan seorang pria yang membela keadilan sepanjang karirnya. Perwujudan pasti keadilan tersebut mungkin tidak sepenuhnya sesuai dengan cita-cita kekuatan asing Barat yang saat ini menjagokan dia dan dewannya. Artinya, pemerintah Barat telah menemukan sekutu yang nyaman dalam misi mereka mendongkel Qaddafi, namun tak ada pemberitaan di titik mana NTC kemungkinan akan menyimpang dari target ideal Barat.

Kekuatan asing hanya bisa berharap bahwa sentimen Abdul Jalil masih murni ketika ia berkata tegas. "Kami sama dengan orang-orang di negara lain, dan mencari hal yang sama. Kami ingin pemerintahan yang demokratis, konstitusi yang adil, dan kami tidak ingin terisolasi dari dunia lagi. "

"MAJELIS RASULULLAH SAW"

"MAJELIS RASULULLAH SAW"

"PERADABAN BARU ISLAM (FITRAH MANUSIA)"

Seaching Blog