Minggu, 17 Juli 2011

Habib Ahmad bin Ali Abdurrahman Assegaf: Mendoakan Musuh

Ketika pesan disampaikan dengan ikhlas dari hati ke hati, insya Allah, bahkan hati musuh pun akan tersentuh.

Habib Ahmad bin Ali bin Abdurrahman Assegaf adalah pribadi yang hangat, ramah, dan mudah akrab dengan siapa pun. Cara berbicaranya runut dan komunikatif.

Ia lahir pada 18 Oktober 1971 dari keturunan tokoh yang menyandang nama besar sebagai Paku Bumi, tokoh dakwah yang disegani dan pecinta ilmu, yaitu kakeknya, Sayyidil Walid Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf, dan ayahnya, Ali bin Abdurrahman Assegaf.

Setelah menyelesaikan pendidikan formal dan pesantren di tempat kakeknya, Habib Ahmad langsung dikirim walidnya belajar ke Madinah tahun 1993, berguru kepada Habib Zein bin Ibrahim bin Smith dan Habib Salim bin Abdullah Asy-Syatiri. 

Setelah empat tahun menuntut ilmu di Madinah, Habib Ahmad kembali ke tanah air. Dan mulailah ia meretas jalan dakwah.

Atas permintaan remaja dan masyarakat di Gang AMD XX, Condet, Jakarta Timur, Habib Ahmad mendirikan Majelis Ta’lim Annurul Kassyaf (Cahaya yang Tembus), yang menggelar pengajian setiap Selasa malam. Majelis ini mulai beraktivitas tahun 2003.

Pada 8 Agustus 2008, di lapangan Cawang Kompor, Jln. Dewi Sartika, diadakan tabligh akbar pembukaan majelis dzikir dengan nama yang sama. Habib Ahmad menggelar dzikir dan ziarah setiap malam Sabtu.

Selain itu Habib Ahmad juga mengkader para remaja agar bisa menjadi khatib Jum’at, pemimpin tahlil, shalawat, dan muballigh.

Menurut Habib Ahmad, tantangan yang dihadapi umat Islam semakin lama semakin berat, yang berujung pada pendangkalan aqidah. Jadi, semua orang harus bersatu padu membendungnya. Ia mengutip hadits Rasulullah SAW, “Barang siapa yang tidak peduli dengan urusan kaum muslimin, bukan dari golonganku.”  “Dakwah harus dikemas dengan menarik sehingga tidak membosankan. Selain itu setiap pendakwah harus harus saling mengisi, bukan saling sikut,” ujarnya.   

Dakwah juga banyak tantangan. “Namun kita yakin, karena menjadi pejuang yang membantu Rasulullah SAW. Walau sering misalnya difitnah.”

Habib Ahmad mengingatkan, fitnah itu bisa datang dari kaum muslimin sendiri. “Biasanya hidup mereka tidak beres, karena mereka berhadapan dengan yang punya agama, yaitu Allah SWT.”

Bagaimana menghadapi fitnah? Rasulullah SAW telah memberikan teladan. “Beliau disakiti, tapi tidak pernah membalas. Doa beliau adalah bagaimana musuh masuk surga. Itu yang harus kita teladani.”

Ketika seorang dai yang ikhlas berbicara dari hatinya, apa yang dikataknnya insya Allah akan masuk ke hati yang mendengarkan. Umat merasa tenang, pesannya meresap dalam hati.

Dalam hidup manusia, suka dan duka datang silih berganti. Dan sebagai pamungkas wawancara dengan alKisah, Habib Ahmad berpesan, “Kalau ada masalah, penyakit yang menimpa anggota keluarga, misalnya, bacalah shalawat Thibbil Qulub (Shalawat Syifa’) sebanyak seribu kali per hari.” (Bunyi selengkapnya Thibbil Qulub, baca alKisah edisi 26/2010 dalam rubrik Figur).

SM/IMR

Tidak ada komentar:

"MAJELIS RASULULLAH SAW"

"MAJELIS RASULULLAH SAW"









"PERADABAN BARU ISLAM (FITRAH MANUSIA)"

Seaching Blog